Uncategorized

Di Antara Dua Sisi

Sepeninggalan Ibu membawa banyak pikiran, kenangan, serta renungan.

Ibu berpulang hari Kamis 22 Agustus 2013 kira-kira pukul 2 lebih 28 menit. Kami bertiga, Bapak, Dek Dhimas, dan saya ditelpon oleh ICU RSCM untuk segera menuju ruang ICU. Waktu itu, saya baru tidur kira-kira 1 jam. Saya tidak punya firasat apa-apa waktu itu, walaupun Bapak berpesan dalam perjalanan ke ICU (waktu itu kami bertiga menunggu di salah satu ruang RSCM yang sebelumnya digunakan sebagai ruang rawat Ibu sebelum di ICU), “Kalau ada apa-apa ikhlas ya dek”.

Menit-menit ketika kami bertiga memasuki ruang ICU merupakan saat terkelam pada hidup saya. Saya ingat, yang pertama kali saya lihat adalah indikator alat bantu yang dipasangkan ke Ibu. Dari tiga indikator yang ada,  dua di antaranya sudah menunjukan angka 0, hanya indikator pernapasan saja yang masih bertahan di angka 16. Kemudian, dokter memberikan penjelasan singkat, bahwa tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin, namun kondisi Ibu terus drop. Kami bertiga terdiam sejenak mendengar penjelasan dokter. Kemudian Bapak bertanya ke dokter,”Tapi Ibu masih bernapas”, melihat bahwa dada Ibu masih naik turun. Dokter menjawab, Ibu masih bernapas karena ada alat bantu pernapasan. Jika alat bantu dihentikan, maka napas Ibu juga berhenti. Akhirnya kami bertiga sepakat dalam diam, untuk menghentikan alat bantu terakhir yang menopang Ibu. Sampai ketika bunyi panjang alat bantu terdengar, otak saya tidak bisa mencerna apa-apa. Kemudian, Bapak mendekat ke Ibu dan mengusap kepala Ibu. Untuk pertama kalinya, saya menyaksikan Bapak menangis. Di saat itu pula, saya menyadari Ibu sudah berpulang.

—————————————————————————–

Banyak hal yang saya pikirkan, saya alami, dan saya rasakan sepanjang perjalanan dari RSCM ke rumah, selama persiapan pemakaman Ibu, dan sampai malam ini tulisan ini ditulis. Dari betapa menyesalnya saya belum sempat minta maaf ke Ibu, kado ulangtahun dari saya dan Nida buat Ibu yang akhirnya belum sempat dibuka Ibu, dari banyaknya dukungan moral dari teman-teman NoLimit, kampus, angkatan IF07, sanak saudara,  teman-teman Ibu, dan Nida, kenangan-kenangan bersama Ibu yang akhirnya tidak akan bisa saya rasakan kembali, wejangan-wejangan dari Ibu, rencana sekaligus keinginan terakhir Ibu sebelum Ibu berpulang, kemudian sampai bagaimana saya akan menjalani hari-hari ke depan sepeninggal Ibu, dan banyak lainnya. 

Satu hal yang saya pelajari dalam menjalani musibah ini adalah bagaimana cara saya mengenang Ibu. Yang pertama kali saya ingat adalah bagaimana tegarnya Ibu sepeninggal Mbah Bapak dan Mbah Ibu (Mbah Bapak dan Mbah Ibu adalah panggilan saya dan cucu-cucu di keluarga besar kepada orangtua Ibu). Saya bisa memilih, apakah terus-menerus meresapi kehilangan ini dengan meratapi bagaimana saya tidak bisa lagi mencium tangan Ibu sebelum saya berangkat ke Bandung, tidak bisa lagi untuk diingatkan untuk shalat, atau menyimpan kenangan-kenangan tersebut, dan lebih meresapi wejangan-wejangan serta nilai-nilai yang Ibu ajarkan selama ini kepada saya sebagai bekal ke depan.

Saya kadang membayangkan, dengan berpulangnya Ibu, seakan memberikan tongkat estafet kepada saya untuk melanjutkan kehidupan ini dengan bekal yang telah Ibu berikan selama ini, serta melanjutkan apa yang telah Ibu rintis. Menjadi tantangan tersendiri bagi saya sebagai cucu tertua di keluarga besar Ibu untuk terus menyambung silaturahmi dengan kerabat, baik yang dekat maupun yang jauh, baik ke keluarga besar Ibu maupun keluarga besar Bapak, kepada teman-teman Ibu, baik itu teman-teman semasa sekolah, kuliah, kantor, serta di tempat-tempat lain di mana Ibu yang seringkali tidak saya sadari, sudah menjadi bagian tersendiri di sana. Menjadi tantangan pula bagi saya untuk terus melanjutkan kebiasaan Ibu untuk terus menyantuni anak yatim, di mana saya yang sekarang ini masih belum punya apa-apa. 

Kalau saja Ibu berumur panjang, saya ingin ngobrol panjang dengan Ibu, tentang apapun. Ah, tapi pengandaian seperti ini yang seringkali melunturkan keikhlasan dan kesedihan menjadi berlarut-larut.

Kalau dibilang untuk mengucapkan selamat jalan Ibu, saya masih merasa Ibu hanya pergi sebentar. Saya berharap di akhirat nanti, saya bisa bertemu dengan Ibu lagi di tempat terindah yang bisa diterima manusia dari Allah SWT. Saya sadar saya masih jauh dari anak yang berbakti, tapi saya terus berharap bisa mewujudkan doa ini.

Akhir kata, terima kasih Ibu atas segala ajaran dan wejangan yang telah Ibu berikan. Semoga Ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT, amalan-amalan Ibu diterima Allah SWT dan dosa-dosa Ibu digugurkan oleh Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s