rants

Menata Upaya – the Follower’s Force

Selama keberjalanan di NoLimit, banyak hal baru yang gw dapatkan. Saking banyaknya merasa 20 tahun hidup berasa belum belajar apa-apa.

Salah satunya adalah kepemimpinan. Kepemimpinan bisa dimaknai dua hal, dipimpin dan memimpin. Satu hal yang mengena mengenai kepemimpinan : menjadi yang dipimpin yang baik itu sulit. Tidak segampang yang dikira orang (baca: gw) bahwa ketika dipimpin cukup hanya ngangguk-ngangguk dan mengerjakan yang diperintahkan. Menjadi yang dipimpin yang baik dapat diandaikan menjadi tangan ketiga, keempat, atau bahkan kelima dari yang memimpin. Butuh lebih dari sekedar get the job done. Paham tujuan bersama yang dicitakan sang pemimpin. Karena dengan memahami, halangan atau kendala yang dihadapi selama bertugas dapat ditangani dengan solusi yang sesuai. Bukan sekedar solusi yang mengelit dari masalah sebenarnya, tapi solusi yang benar-benar menyelesaikan masalah. Dan untuk mencapai hal demikian, bukan paham Asal Bapak Senang yang digunakan, tapi rasio dan akal sehat.

My inferiority is killing me. Masih banyak yang harus dipelajari. Postingan ini bukan untuk menggurui, tapi transformasi dari kesan hati yang lama dipendam. Jalan masih panjang, jalan masih panjang, tapi manusia adalah entitas yang bisa melebihi alam semesta (digubah dari quote @pidibaiq).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s